"Gimana datanya udah diterima, Din?," tiba-tiba suara itu datang dari arah belakangku. Ternyata Dinar tiba-tiba dibelakangku, tepat sepersekian detik setelah aku memikirkan namanya. Tiba-tiba sudah ada wujudnya. Kalian sering tidak sih, memikirkan seseorang terus orangnya tiba-tiba muncul atau tiba-tiba chat atau lagi tiba-tiba nelfon. Pertanda apakah itu?
Hari ini aku ke kantornya. Tidak untuk menemui dia, tetapi memang sedang ada meeting dengan client yang memang tempatnya satu gedung dengan Dinar, hanya beda beberapa lantai saja. Entah apa maksud Semesta, padahal sebelum meeting dengan Dinar kala itu aku jarang ke kantor wilayah kami yang didaerah selatan Jakarta. Satu malam sebelum aku meeting disana memang sempat berharap semoga bertemu dengan Dinar. Ternyata hari ini kebaikan berpihak padaku ditengah pusingnya urusan project setidaknya ada Dinar yang jadi salah satu semangatku pagi itu.
Hari ini Dinar memakai baju biru cerah dengan sepatu pantofel hitam. Sedetail itu aku memperhatikannya dari sudut mataku. Ketidaksengajaan kami bertemu ditempat makan siang menjadikan moment makan siang pertama kali yang berdua saja. Tidak ada orang lain yang menghakimi obrolan kami. Makan siang kali ini tidak membosankan karena ada tawa Dinar yang receh.
"Ngapain kesini lagi btw, Din? Cari aku yaaa hahaha," ucap Dinar dengan kepedeannya.
"Whaaat? Nggak yaaa, emang meeting aja sama orang risk mau bikin program"
"Wah, mau bikin program apa nih? Seru ya kayaknya jadi orang bisnis kenalannya banyak, aku pusing liat angka terus Din"
"Wkwkwk, mau tukeran kita Pak?"
Begitulah kira-kira obrolan kami yang mungkin terlihat basi-basi, tapi menurutku tidak basi sama sekali. Justru aku merasa lebih mengenal dia lebih jauh lagi, padahal baru obrolan pembuka. Rasanya ingin menghetikan waktu, jangan terlalu cepat berlalu. Dinar, seseorang yang hangat bisa berteman baik dengan siapapun dan menganggap setara lawan bicaranya. Jarang di kota besar aku menemukan orang asing yang langsung akrab ngobrol seperti dia. Nada bicaranya yang tidak terdengar seperti formalitas, tapi benar-benar ingin tahu lawan bicaranya lebih banyak. Mungkin banyak orang yang nyaman berteman baik dengan dia. Begitu juga denganku kala itu.
"Lagi sibuk apa lagi sekarang? Pegang project apalagi selain analisa yang kemarin? Mau aku bantu apalagi?"
"Bisa nggak kalau kamu tanya itu satu-satu? Otakku ga sanggup harus menghafal pertanyaan-pertanyaan itu hahaha, memoryless otak aku," begitu sambungku lagi-lagi menanggapi Dinar yang kalau sekali bertanya sederet.
"Hahaha, sory Din, kebiasaan nih. Oh ya kita kalo orang manggil Din kita noleh dua-duanya ya, dong Din-Din," ucapnya sambil menggegam segelas kopi.
"Iyalagi, kok bisa yaa janjian kali dulu orang tua kita, oh ya btw kamu asli mana si kayak bukan orang Jakarta asli," tanyaku sedikit penasaran.
"Aku mah emang bukan orang sini Din, aku kosnya di Bekasi sini kan Jakarta haha," sambil tertawa tebahak-bahak kami berdua.
"Aku asli Solo, Din, keliatan banget medoknya ya?"
"Ah, enggak kok biasa aja, karna udah lama di Jakarta kali ya. Kamu gamau tanya balik aku asli mana? Parah banget"
"Lucu juga ya kamu, nanti aku tanya sederet kamh bingung lagi jawab pertanyaan ku. Yaudah kamu asli mana? Disini kos daerah mana? Lulusan mana?"
Seketika kami tertawa bersama ditemani kebisingan suara piring dan sendok yang beradu di jam makan siang.
"Aku asli Gresik, daerah Jawa Timur, baru delapan bulan aku merantau ke Jakarta ini, terus apalagi tadi pertanyaanmu yang belum kujawab Din?"
"Din yang mana ini? Dinar apa Dinda? hahaha."
"Hayo maunya yang mana, suka-suka mu ajalah kalo gitu."
"Suka-sukanya aku kamu dong Din," aku tersedak saat Dinar tiba-tiba bilang begitu. Meskipun aku tau itu dia hanya ingin bercanda di obrolan kami.
"Eh, sory Din, kaget ya? ini ada tisu Din," tangannya menyulurkan tempat tissue yang ada di meja sebrang kami.
"Kebanyakan ketawa sih jadi kesedak kan," balasku sambil masih menahan ketawa.
Sayangnya obrolan manis itu jadi penutup obrolan makan siang kami. Meskipun obrolan singkat kami sering kali loncat-loncat kalau diingat. Tapi itulah serunya ngobrol dengan Dinar. Tidak harus menjawab semua pertanyaannya, sudah berpindah ke pertanyaan selanjutnya. Satu jam istirahat untuk makan siang sudah habis. Dinar harus bergegas balik ke ruangannya, dan akupun harus balik ke kantorku.
Sesampai kantor aku bergegas membuat laporan untuk hari ini, karena mau pulang teng-go. Ditemani alunan musik spotify yang masih beriklan tak terasa sudah 4 slide power point beres sudah.
"Dindaaaaa, hey kemana aja lama ga liat," tiba-tiba dari belakang ada menepuk pundakku dengan suara heboh, sampai semua orang sempat melirik kami. Berisik di jam kerja mungkin pikir mereka.
"Hey Nay, kangen banget gimana liburannya? Seru ga?"
"Seru dong, dibayarin abang gw, gw mah duduk manis aja."
Dia Naya, teman akrabku di unit ini. Dia anak pindahan dari kantor cabang kami yang di wilayah Tanggerang. Kami akrab karena kami sama-sama anak baru di unit ini. Tapi gatau kenapa, aku sering cerita masalah kantor ke Naya.
"Gimana project, Din? Aman?" tanya Naya sok peduli.
"Aman dong Nay, eh Nay tau ga ada orang yang bikin gw senyum-senyum sendiri akhir-akhir ini," bisikku lirih. Meskipun kami beda tim tapi tempat duduk kami berdekatan, jadi aman kalau buat bercerita.
"Siapa orangnya? Namanya? Anak mana dia? Mau liat dong? Ngeri banget baru berapa bulan udah ada yang ditaksir aja."
Begitulah Naya, kalau ngomong suka gaada titik komanya, kalau dipikir-pikir mirip Dinar kalau nanya sesuatu langsung segabrek. Mungkin mereka satu DNA.
"Gw bilangin ya Din, ati-ati sama orang baru kenal, awalnya aja baik-baik, ntar takut lo tiba-tiba di ghosting gimana?"
Kalau soal cinta Naya emang lebih jago dari pada aku. Pengalamannya soal cinta-cintaan memang sudah banyak, nasihat-nasihat soal cinta terutama, memang patut didengarkan, meskipun kadang sering kali disangkutpautkan sama zodiac seseorang. Seahli-ahlinya Naya soal cinta tapi dia sendiri masih stuck dengan mantan terindahnya yang terhalang agama. LDR sih jatuhnya Long Distance Religonship. Bahasa Naya kalo cinta tapi sering banyak benarnya dan masuk logika.
"Nanti kapan-kapan kita ngopi bareng Nay, sekarang gw mau selesein PPT dulu buat report ke Pak Bram, gw mau tenggo hari ini ogah lembur."
"Kalo di spill doang ujungnya kerja lagi, jangan cerita sekarang tau gitu Din, bikin penasaran orang aja. Nih oleh-oleh buat lu, gw udah pisahin."
"Thanks Nay, besok pas maksi kita cerita-cerita lagi. Bye Nay," sambungku sambil meninggalkan Naya menuju ke meja Pak Bram untuk report progress harian.
Malam harinya, jam menujukkan pukul 21.00 tiba-tiba ada chat dari Dinar yang terselip dibanyak chat dari urusan kantor. "Din, udah sampai rumah belum?," kira-kira begitulah basa-basi chat nya. What? Dinar tiba-tiba nge-chat. Bukan nanyain urusan kantor lagi. Sekitar 30 menit aku berpikir untuk membalas apa. Awalnya aku sudah bersiap tidur, tiba-tiba hilang rasa kantukku. Seperti re-charge energi ada sesuatu yang membuat mata dan hati seakan sinkron untuk bilang "tunggu Dinda jangan tidur dulu, bales dulu itu chat Dinar."
Akhirnya tiga jam berlalu waktu tiba-tiba sudah tengah malam, dan aku ketiduran duluan. Dinar cerita tentang kehidupan di kantornya. Drakor - drama kantor, yang kadang membuatnya jenuh dan kesal. Dia bilang senang ada teman berbaginya. Aku pun senang jadi tempat dia mendengarkan semua riuh kesal yang ada di kepala selepas pulang kantor. Tanpa terasa aku tertidur meninggalkan chat Dinar yang terbuka dan belum sempat aku balas.
Keesokan harinya...
"Sibuk gak? mau ngajakin call mau tanya soal kerjaan, " tetibanya sudah jam kerja aku lupa membalas pesan terakhirnya semalam dan langsung bertanya soal urusan kerjaan.
"Bisa dong, mau jamber Din? Abis jam maksi kali ya, isirahat dulu Din, jangan kerja melulu, yang kaya bukan kita juga ntar hahaha."
Pesan singkat balasan dari Dinar yang tanpa sengaja Naya juga baca dari belakang.
"Cie, udah sedeket itu obrolan kalian? Mana sini katanya mau cerita, kata Dinar suruh makan dulu tuh jangan kerja terus Din," ujar Naya sambil menyeretku ke pantry untuk makan siang.
"Btw Nay, gw sama dia chatan juga dari semalam sampe jam 12an malam gitu."
"Serius kalian obrolin apa? Fix sih dia kayaknya juga mulai terbuka sama lo Din. Kalau urusan kerjaan mana ada sampe chat-an terus sampe tengah malem, lagian dia juga cuman support kita dari sisi data nya doang kan? Kalau udah dikasih mah udah bukan urusan mereka, ngapain dia masih nanyain sampe segitunya. Itumah dianya sendiri yang mau, pikir deh mana ada kita as a user di treat sebaik itu sama orang yang kita repotin? Aneh banget sih!"
Begitulah Naya, belum juga aku bercerita panjang lebar, tapi sudah sampai kesimpulan dia menjelaskan, seakan-akan dia sudah mendengarkan ceritaku panjang lebar. Apa yang bisa aku lakukan selain mendengarkan asumsi-asumsi dia soal cinta.
"Gw nyambung aseliii ngrobrol sama dia, kita tuh sama-sama text-er. Sukanya chatan, jadi ceritanya bisa dikenang kalo lewat text. Beda cerita kalau telfon. Terus dia tuh orangnya receh, bukan tipe yang serius-serius banget kalo ngobrol tapi suka bikin ketawa juga sama isi chatnya meskipun dia ngobrolinnya tentang orang-orang kantor dia yang katanya rada toxic sih disana." Aku tanpa sengaja merangkum apa obrolan semalam lalu kuceritakan kembali dengan sudut pandangku ke Naya.
"Lo jatuh cinta beneran aseliii Din," jawab Naya memotong pembicaraan yang belum usai.
"Iyasih Nay, keknya gitu hahah, tapi emang dia orangnya seru banget."
"Terus nanti ngapain call bareng? Bukannya project lo udah beres, ngapain masih recokin dia lagi? Itu mah mau-mauan lu aja biar tetep deket dia Din."
"Nggak ya Nay, lo gatau tadi pagi Pak Bram udah kirim revisian by email. Doi juga minta tambahan data lumayan banyak, ya kemana lagi gw nanya kalo ga ke Dinar, syukur-syukur nanti tetep di tim dia yang provide datanya."
Tanpa terasa waktu makan siang sudah mulai habis, aku bersiap kembali ke meja dan merapihkan beberapa pendingan sedikit. Kali ini aku sholat Dhuhur lebih awal dari biasanya karena nanti ada call dengan Dinar.
"Hallo Din, gimana apa yg bisa aku bantu lagi Din?" suaranya renyah terlihat berwibawa. Meskipun ada beberapa kebisingan suara orang-orang sekitar dia yang masuk ditelfonnya. Dinar memang seorang Lead di timnya, memang sepantasnya dia menunjukkan profesionalitasnya ketika dilingkungan orang sekantornya. Seperti orang yang berbeda dengan Dinar waktu chat di malam hari.
"Eh, iya Nar jadi gini, aku ada data tambahan nih, buat bikin proyeksi, kayaknya mesti butuh data historical sekitar 6 sampe 12 bulan kebelakang si, tentang behavior customer, kira-kira ini masih di timmu nggak ya? Atau harusnya di tim lain?" Tanyaku lugas tanpa basa-basi, karena memang sudah dikejar deadline juga.
"Oh itu di tim aku juga bisa Din, ntar coba kita asses dulu ya datanya ada atau enggak, nanti aku kabarin kamu lagi by call atau WA. Ada lagi Ibu Dinda yang bisa kami bantu?"
"Tidak Pak, itu dulu saja terima kasih." Dinar tetaplah Dinar yang pada ciri khasnya. Suaranya terdengar ingin melucu dan meledek, tapi ini masih di lingkup jam kantor.
Call kami berakhir setelah 30 menit lamanya. Tak lama dari itu ada chat di platform kantor dari Dinar. "Din, datanya ada. Nanti di tim aku ya yang support. Boleh minta tolong email dulu kah Din requestnya, biar ada underlyingnya. Bilang aja tadi sudah diskusi by call dengan Mas Dinar." Langsung aku bergegas email Dinar dan beberapa orang timnya yang dia sebutkan di percakapan sebelumnya. Dia hebat masih muda, umurnya tidak jauh dariku tapi karirnya sudah melejit.
🌻🌻🌻
Komentar
Posting Komentar