Bagaimana rasanya jatuh cinta disaat dewasa? Aneh bukan? Harusnya memang momen butterfly era ini terjadi waktu kita masih masa-masa SMA. Bukankah kisah cinta yang sempurna memang seringkali digambarkan seperti kisah-kisah remaja seusia anak 17 tahun? Dulu waktu aku 17 tahun tidak terlalu fokus ke arah sana. Suka sih, sama teman sekolah cuman ya sebatas suka-sukaan aja! Bukan yang bucin parah kayak anak jaman sekarang. Tapi anyway, ternyata bucin itu menyenangkan. Dinda, hey! kamu kemana aja selama ini. Terlalu fokus belajar? Patuh larangan yang dibuat orang tua?
Entahlah. Jatuh cinta di usia yang nggak remaja lagi tapi juga nggak tua-tua banget. Ternyata bukan soal umurnya, tapi sama siapanya dan bagaimanya. Bagaimana komunikasinya? Bagaimana cara pertemuannya? Bagaimana mengontrol perasaan kalau didepan teman-teman? Bahagianya kalau sedang menunggu balasan chat dari dia, atau hanya sekedar melihat dia typing.
"Gimana kondisi kerjaan hari ini?" ujarnya kala itu mengawali percakapan kami.
"Hmm, baik lancar. Kamu sendiri gimana," aku segera menyambungnya sambil cengar-cengir sendiri di dalam keramaian jalanan pulang.
Dia yang kutemui sekitar 6 bulan lalu, ternyata kami berasal dari kota yang sama. Mas-mas sebayaku, tinggi, dan kulit sawo matang. Hmm, cukup manis dilihat, pikirku kala itu mengawali ketertarikanku dengannya. Oh iya! Kami satu kantor tapi berbeda gedung kantor. Tidak jauh tempatnya, hanya 15 menit jika berkendara dengan motor. Dia berada di gedung perwakilan kantor pusat dan aku digedung kantor pusat. Kami sama-sama bekerja ditempat yang bergerak di jasa keuangan.
Awalnya aku tidak mengenalnya, sampai akhirnya aku sering diajak atasanku untuk meeting dengan user yang berada di kantor wilayah. Disitulah pertemuan kami dimulai. Memulai dengan perkenalan basa-basi biasa. Ternyata dia sudah cukup senior sedangkan aku anak bawang yang harus mencari ilmunya dulu di kantor ini.
"Hay, Aku Dinar," sapanya kala itu sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Hallo, Mas Dinar, perkenalkan aku Dinda," sambungku memperkenalkan diri juga.
"Dari devisi apa? Sudah berapa lama dikantor ini? Sepertinya nggak asing ya? Sudah pernah ketemu sebelumnya?" sambung Dinar.
Pertanyaan yang dia lontarkan seperti orang mau mengintrogasi lawan. Sembari aku menatap binar matanya sembari aku mengingat apa saja pertanyaan yang tadi dia tanyakan untuk sekedar basa-basi.
"Dari devisi marketing mas, baru penempatan disini," sahutku pelan. Aku memang begitu orangnya tidak bisa langsung antusias bersemangat jika bertemu orang baru. Banyak yang bilang ketus lah, sombong lah, atau apapun itu. Terserah kalian.
Pembawaan dan gaya bicara yang lugas, seketika membuat mataku tersihir dengan ucapannya. Bagaimana dia bersikap ramah terhadap orang baru. Mungkin jujur, aku agak sedikit trauma jika berkenalan dengan orang yang baru aku kenal. Sering kali banyak orang menganggap anak baru itu jadi benalu, jadi beban. Jadi sering kali dianggap remeh. Namun hal itu tidak aku temukan didalam diri Dinar. Oleh karenanya, aku langsung kagum padanya. Bukankah memang pertemuan pertama yang diingat kembali oleh dua orang yang selalu mengingatnya ulang?
Dinar bekerja dibagian data. Mengolah data-data besar perusahaan sudah menjadi makanan pokok dia sehari-hari. Sedangkan aku, melihat tumpukan file-file excel yang berjejer di jendela laptop saja sudah mual. Mending disuruh dealing 100 client baru. Pantas saja obrolan Dinar bahasanya selalu terstruktur. Mungkin karena dia juga mengolah angka-angka yang harus jadi report yang terstruktur juga informasinya. Bertambah lagi kekagumanku dengan dia.
Dari pertemuan pertama itulah, kami bertukar nomor satu sama lain. Bukan untuk maksud apa-apa tapi kala itu, memang murni tentang urusan pekerjaan bukan perasaan. Yaa.. meskipun kadang ada terselip rasa deg-degan sedikit.
Rasanya harus aku jelaskan bagaimana dengan sabar dan penuh kehati-hatian Dinar menjawab semua pertanyaan-pertanyaan bodohku.
"...oh kalau begini sepertinya datanya tidak ada di database kita mbak, coba sudut analisanya diubah jadi bla.. bla... blaa..." begitulah kira-kira isi pesannya.
Sekitar dua bulan kami berbalas pesan, sebentar lagi analisa yang akan kubuat akan dipaparkan, artinya sebentar lagi aku tidak akan berkirim pesan juga dengan Dinar. Kan projectnya sudah hampir beres? Memangnya mau berharap apalagi, Din? Berharap dia chat yang isinya "udah makan belum?" basi kali ah Din, hayalan dalam pikiranmu itu.
Tapi apapun yang sedang terjadi kala itu, rasanya aku ingin bilang keseluruh dunia. Semesta, sepertinya aku sedang jatuh cinta. Arrrrgggghh! Beginakah jatuh cinta dikala dewasa? Bukan hanya tentang fisik semata tapi lebih tentang kedewasaan dan kepribadian seseorang.
(bersambung....)
πππ
Komentar
Posting Komentar