[ANTARA - Eps: 3]: Dia yang Lainnya

Satu bulan berselang, projectku ternyata disetujui, bukan sekedar untuk analisa tapi harus berwujud barang. Barang yang orang kantoran biasa sebut dengan tools. "Jadi barang oke nih project, terusin ya!" begitu ucap singkat atasanku saat tau projectku berhasil. Senang sekaligus cemas apa iya aku bisa? Aku hanya orang lapangan yang lebih suka berinteraksi dengan banyak orang tiba-tiba diminta bikin tools yang pasti banyak berhubungan dengan teknis-teknis yang sulit aku cerna dikepala. 

Seketika aku langsung terpikir satu nama, teman seperjuanganku saat in class training bersama, tapi dia ditempatkan di bidang IT. Memang kalau urusan IT dia tidak diragukan lagi kebisaannya. Apalah aku yang nyalain printer aja kadang panggil temen sebelahku. Tidak mengapa toh setiap orang dilahirkan dengan keahliannya di masing-masing bidang. Kalau semua kita bisa sendiri apa gunanya kita berteman dengan orang-orang lintas devisi, lintas generasi. 

Namanya Raya, aku mengenal dia dengan baik meskipun dulu di kelas kami tidak terlalu dekat. Aku memang tidak suka terlalu dekat dengan siapapun, karena bagiku ya urusan pekerjaan ngapain harus sedekat itu dengan orang-orang yang memang urusannya harus selesai cukup di kantor saja. Tapi nyatanya pikirannku salah, kita tetap bisa berteman baik bahkan bersahabat dengan rekan-rekan kerja kita. Nggak perlu terlalu banyak mungkin satu dua orang yang bisa kita percayai. Yes! Raya salah satunya yang aku cukup bisa percaya dan secure kalau berbagi hal terkait pekerjaan dan diluar pekerjaan dengan dia. 

"Ray, ada kenalan orang IT yang biasa develop tools ga ya, lagi butuh buat project ditempat gw nih," tanyaku kepada Raya langsung menelfon.

"Oh, ada-ada ntar gw kenalin ke orangnya, dia lumayan senior sih disini, tapi gw ga setim. Dia tim sebelah ntar gw hubungin ke dia deh."

Begitu obrolan kami berakhir, tiba-tiba Raya mengirim kontak seseorang lewat WA. Bertuliskan "Raditya Nugraha - IT" begitu Raya memberi nama orang yang akan aku minta tolong untuk develop projectku. Selepas Raya memberi kontak salah satu rekan kerjanya sontak aku terus menghubungi kawannya itu. 

"Hallo, siang Pak Radit, perkalkan aku Dinda dari Tim Marketing ingin mengajak diskusi tentang project development dari tim kami, kira-kira apa bisa set diskusi dengan Pak Radit dalam waktu dekat? Terima Kasih sebelumnya maaf mengganggu waktunya." 

Harap-harap cemas, karena begitulah aku meskipun aku senang berinteraksi dengan banyak orang, aku selalu khawatir dengan yang namanya perkenalan pertama. Banyak yang kupikirkan, tentang sopan santun, takut dikira sok asyik, takut dirasa sok paling penting, dan banyak takut-takut lainnya. Karena bagiku perkenalan pertama itu yang akan terus dibawa untuk melabeli karakter orang tersebut. 

"Oh ya siang Mba, btw panggil mas saja saya belum bapak-bapak juga kebetulan. Boleh mba mau diskusi online atau offline mba? Minggu ini kebetulan saya tinggal besok sih kosongnya, after makan siang, kira-kira bagaimana mba?" Berselang 15 menit dari aku mengirim pesan, ternyata teman Raya yang bernama Radit membalas. Langsung aku mengiyakan tawarannya dan kami sepakat untuk meeting offline

Setelah disibukkan dengan urusan data-data beberapa minggu lagi akan disibukkan dengan project-project yang kita harus kerjasama dengan orang IT. Btw, Dinar apa kabarnya ya? Tiba-tiba ada pertanyaan terbesit di otakku. Dua hari yang lalu kami masing saling kontak untuk bercerita rutinitas setelah pulang kantor. Dia membuat suasana after office jadi menyenangkan. Meskipun hanya bercerita lewat WA tapi rasanya lebih mewah daripada makan di resto bintang lima Jakarta. Mungkin kalau project ini disusun seperti skripsi nama Dinar akan masuk kedalam ucapan kata terima kasih di kata pengantar. Dinar dan Radit? Ah Radit, bertemu saja belum, ngapain terpikir dia. 

Hari ini aku pulang pukul delapan malam, sudah cukup malam dari biasanya, sekali dua kali aku check HP siapa tau ada pesan masuk dari Dinar yang tertumpuk. Oh memang belum ada pesan masuk saja, atau dia memang sedang sibuk. Akhir bulan biasanya reporting sangat sibuk sekali, banyak unit-unit lain yang meminta data ke Dinar pasti. Waktu sudah pukul sepuluh malam aku bersiap tidur, sudah tidak ada tenaga lagi untuk check HP. Tiba-tiba setengah sebelas malam ada chat masuk. 

"Din, apa kabar? sudah selesai ya projectnya?"

                                     🍃🍃🍃

Pagi hari ini cukup berat pikirku, tapi aku cukup senang belajar hal baru lagi. Sebenarnya aku senang jika dipercaya untuk handle project baru, karena disitulah aku akan tumbuh dan mengenal banyak relasi. Itulah ternyata kenapa skill komunikasi dan negosiasi penting didunia kerja. Toh, ternyata dulu aku yang kecilnya pemalu, takut bicara didepan orang banyak, ujung-ujungnya ambil kuliahnya jurusan komunikasi, ya meskipun selalu takut mulai mengobrol dengan orang baru kenal.

Pagi hari setibanya di kantor, masih sepi padahal waktu sudah hampir jam 9 pagi. Mungkin anak-anak marketing lainnya pada offsite. Selang setengah jam kemudian Naya mengagetkan dari belakang. 

"Din, tumben pagi-pagi ga grusa grusu? mentang-mentang boss lagi gaada ya?" Naya meledek tipis.

"Nggak emang hari ini agenda gw meeting doang sama anak IT ntar siang, jadi paginya bisalah nyantai dulu, eh btw jajan lu sisa jalan-jalan kemarin masih ada gak? laper nih," tanyaku ke Naya tiba-tiba aku lapar pagi-pagi.

"Nih, makan bekel gw, tapi dikit aja sisain buat makan gw siang nanti."

"Oke Nay, enak juga masakan lu ya."

"Dinar gimana Din, dah sejauh mana kalian?"

Tiba-tiba aku ingat ada pesan Dinar yang semalam belum kubaca, karena sudah tidak ada energi untuk membalas pesannya. Tapi pagi ini juga aku masih enggan membalas, kalau pagi aku membalasnya pasti sudah tertumpuk dengan chat urusan kantor lainnya. Ah! mengapa aku harus berpikir demikian, harusnya dia balas lagi atau enggak itu hak dia. 

"Dia wa sih Nay semalam belum gw bales aja, mager ntaran aja!"

"Dih! kenapa? ngambek lo sama dia gara-gara dia baru chat lagi semalam? sibuk kali juga dia, kita gatau kerjaan dia disana gimana beratnya Nay, jangan jadi anak kecil deh, minimal jadi rumah kalo dia lagi suntuk, mungkin semalem dia lagi butuh temen cerita, trus lo gajawab Din."

"Nggak gitu, semalam udah gaada tenaga aja lagian malem banget jam 10 lebih gilaa, yakali gw bangun cuman nungguin chat dia doang."

"Baru pulang kali ah, akhir bulan Din ini mereka pasti sibuk-sibuknya, iyagasih?"

"Maybe. Atau dia sibuk sama yang lain juga who knows, kan?"

"Kok jadi jeles menyebalkan gitu Din, udah gausah mikir macem-macem jalanin aja dulu sesuai porsi lu, lagian kalian juga kan masih deket doang belum ada jelas apa siapanya kan?"

Seketika aku berpikir omongan Naya ada benarnya juga. Hari ini awal bulan, tanggal-tanggal dimana harusnya dia tidak sibuk, lihat saja nanti dia akan chat lagi atau tidak. Aku tidak mau terpikir itu terlalu jauh, lebih baik aku prepare konsep apa yang nanti akan aku bawa untuk present ketempat Radit, karena sudah mulai jam-jam untuk fokus bekerja. Mari prepare urusan kerjaan dulu, urusan hati kita tata nanti sepulang kerja.

Sekitar 4-5 slide aku membuat deck untuk gambaran singkat mau dibawa kemana projectku nanti. Karena ini kali pertama aku pegang project, mungkin energiku akan lebih banyak dibutuhkan disini, dan logikaku mulai harus banyak ikut andil.

Tempat Radit hanya selisih 5 lift dari lantai anak marketing, selepas makan siang dan sholat Dhuhur aku menuju tempat Radit. Sejujurnya aku belum pernah bertemu dengan Radit sebelumnya, tapi dari chat semoga dia orangnya enak diajak berkolaborasi. Kalau bahasa corporatenya semoga dia orangnya "cooperative", semoga iya dia begitu.

Setibanya diruang meeting, aku disambut dengan tiga orang yang aku asing dengan semuanya. 

"Perkenalkan saya Dinda, tim marketing."

"Halo Mba Dinda, saya Rei."

"Hallo, saya Ajeng."

"Hallo, aku Fira."

Tiga orang tim Radit menjamuku di awal. Oh ternyata, orang yang kupikir Radit adalah Rei. Dalam hatiku bertanya: "Dimana yang namanya Radit pikirku?"

"Mas Radit nya, masih sholat mba kita tunggu 10 menitan lagi ya meetingnya," sahut orang yang bernama Ajeng membuka obrolan ditengah heningnya kami berempat. 

Tak lama sepuluh menit berselang, dari belakang suara ketukan pintu.

"Hallo, ini Mba Dinda ya? kenalin aku Radit."

"Oh iya mas, aku Dinda, salam kenal juga ya."

"Kita mulai aja mba, boleh dijelaskan dulu kebutuhannya seperti apa dan background storynya gimana mba? biar dari tim jelas dulu kebutuhannya gimana."

Setengah jam aku mempresentasikan goals dari project ini akan dibawa kemana nantinya. Bersamaan dengan masukan dan diskusi dengan timnya Radit. After meeting yang pertama, kita sepakat untuk ada diskusi lanjutan selang seminggu setelah hari ini.

Aku menghubungi Raya kalau aku sedang ada di lantainya. Raya menghampiri aku di ruang meeting selepas urusan diskusiku dengan Radit selesai.

"Oh kalian teman satu batch ya dulu?" tanya Radit melihat keakraban kami.

"Iya, ini temenku mas, kemarin emang aku yang kasih kontak Mas Radit ke Dinda," jawab Raya berusaha menjelaskan.

"Kalau masih mau disini gapapa pake aja ruangannya, aku book 2 jam ruang meeting ini." Radit mencoba ikut masuk kedalam obrolan kami. Setelah tiga timnya keluar dari ruang meeting lebih dulu. Tersisa Raya, Radit, dan aku. Kami mencoba bertukar cerita tentang bagaimana tim IT mendevelop konsep menjadi sebuah platform yang bisa diakses banyak orang. 

"Semua dulu berawal dari konsep-konsep gini mba, jadi ada yang brain storming ide nanti dari kami yang coba realisasikan asal masuk akal." 

Radit, si rapih, supel, dan santun tutur bahasanya, serta sepertinya dia terlihat orang yang sederhana tidak suka neko-neko. Tidak seperti anak IT lain yang biasanya terkenal kucel pakaiannya. Radit sangat rapih bahkan orang bisa lebih percaya  dia anak marketing yang sering ketemu nasabah dibanding dia jadi anak IT. Itulah keahlianku yang kadang aku banggakan, aku bahkan bisa menilai seseorang pada perkenalan pertama.

Berselang setengah jam kemudian aku pamit pulang, sambil berpikir apa yang bisa aku selesaikan hari ini. Aku ingin pulang cepat mumpung gaada boss. Setiap hari semua orang juga ingin pulang cepat toh? Ada atau tidaknya atasan mereka. Siapa yang suka berlama-lama dikantor memang.

🌻🌻🌻


Komentar