Semburat langit sore kota Jakarta yang sedang berwarna jingga, membuyarkan sedikit lamunanku tentang beberapa task list di kantor yang masih jadi pendingan hari ini. Oke tenang saja, masih ada hari esok yang siap dijadikan waktu untuk menyelesaikan. Sulit? Tentu tidak! Masih lebih sulit menjelaskan rumitnya kisah pertemuanku dengan dia kala itu. Dia? Dia yang berkulit sawo matangkah? Ataukah dia yang tinggi berkacamata? Entah sebenarnya keberpihakanku pun masih abu-abu. Perasaan manusia gampang terbolak-balik toh? Seperti langit yang sekarang tiba-tiba berubah abu-abu diiringi rintikan gerimis kecil. Memang tidak ada yang kekal abadi di dunia ini. Dibalik jendela kaca bus kota dalam hati kecilku berbisik, "mungkin akan turun hujan, untung sudah didalam bus." Aku menghela nafas kecil sambil melihat beberapa orang berbondong-bondong mengambil posisi antrean sesuai halte tujuan mereka.
Jam pulang kantor memang berwarna, seperti langit. Kadang terang berwarna tapi sering juga dia kelabu lalu diiringi turun hujan. Sama seperti pekerja-pekerja kantoran yang pulang pukul 5 sore. Muka mereka kadang masam, kadang juga gembira, kadang mungkin juga kesal dengan macetnya jalanan ibu kota.
"Din, besok jangan lupa ada stand up meeting jam 9 pagi yaaa!" ucap salah satu rekan kerja di personal chat kami.
"Okee," begitu saja jawabku.
Aku memang tidak seantusias itu membalas hal-hal soal pekerjaan diluar jam kantor. Jadi ya wajar saja kalau seperlunya saja kubalas mereka. Toh besok kita bertemu lagi di kantor yang sama.
Dinda. Begitulah teman-teman sebayaku atau mereka yang lebih tua memanggil diriku. Dulu dalam pikirku berkantor di Jakarta sangat membanggakan dan menyenangkan bahkan kadang jadi tolak ukur kesuksesaan banyak orang. Tapi setelah kujalani ini semua ya kadang naik turun. Adakalanya rindu kampung halaman. Jadi anak rantau itu banyak nggak enaknya. Apalagi jika tidak punya siapa-siapa diperantauan. Tapi namanya sudah jadi keputusan. Harus kita dijalani sebaik-baiknya, toh?
Selang 30 menit berlalu pemberhentianku tiba di halte tujuan. Saatnya melanjutkan jalan pulang ke kosan yang jaraknya sekitar 200 meter dari halte. Oh iya, soal hujan gerimis di halte pemberangkatan tadi ternyata disini terang. Tidak ada rintik hujan sedikit pun. Langitnya sama, tapi kondisinya berbeda. Padahal jaraknya belum cukup jauh.
🌻🌻🌻
Komentar
Posting Komentar